Belakangan ini ada teman yang bertanya tentang konsep limit up, saya baru menyadari bahwa banyak pemula masih cukup asing dengan mekanisme ini di pasar saham. Sebenarnya limit up secara sederhana adalah ketika harga saham naik ke batas maksimum yang ditentukan, tidak bisa naik lagi.



Mengambil contoh dari pasar saham Taiwan, TSMC kemarin tutup di 600 dolar, hari ini maksimal hanya bisa naik ke 660 dolar, itu namanya limit up. Sebaliknya, paling rendah juga hanya bisa turun ke 540 dolar, ini disebut limit down. Aturan pasar saham Taiwan adalah bahwa kenaikan dan penurunan tidak melebihi 10% dari harga penutupan hari sebelumnya. Saat melihat grafik lilin, saham yang limit up akan ditampilkan sebagai garis lurus, pesanan beli menumpuk seperti gunung tetapi pesanan jual hampir tidak ada, saat itu orang yang ingin membeli jauh lebih banyak daripada yang ingin menjual.

Ada satu pertanyaan yang banyak orang tidak paham — apakah saat limit up bisa melakukan transaksi beli jual? Jawabannya bisa. Saham yang limit up tidak mengunci transaksi, kamu tetap bisa memasang order. Tapi ada jebakannya, saat kamu ingin membeli mungkin tidak langsung terisi karena di harga limit up sudah ada banyak pesanan beli yang menunggu. Sebaliknya, jika kamu ingin menjual, biasanya langsung terisi karena terlalu banyak orang yang ingin mengambil posisi jual.

Logika limit down sama sekali berlawanan. Saat ini pesanan jual penuh, pesanan beli langka. Kalau ingin membeli akan langsung terisi, tapi kalau ingin menjual harus antre dan mungkin tidak langsung terisi.

Yang menarik, mekanisme di pasar berbeda-beda. Pasar Hong Kong dan AS sama sekali tidak punya limit up, mereka menggunakan mekanisme penghentian otomatis (circuit breaker). Di pasar AS, penghentian besar terjadi seperti ini: jika indeks S&P 500 turun 7%, pasar dihentikan selama 15 menit; turun 13% juga dihentikan selama 15 menit; tapi jika turun sampai 20%, langsung ditutup hari itu. Untuk saham individual juga ada mekanisme penghentian, jika dalam 15 detik harga naik atau turun lebih dari 5%, akan dihentikan selama 5 menit.

Saya lihat banyak pemula melakukan kesalahan terbesar yaitu mengikuti tren naik dan menjual saat turun. Kalau saham limit up langsung beli, kalau limit down langsung panik jual. Sebenarnya harus dibalik — apa penyebab limit up? Apakah karena berita baik yang nyata atau cuma spekulasi? Kalau fundamental perusahaan tidak bermasalah, hanya karena fluktuasi emosi jangka pendek yang menyebabkan limit down, saat itu justru peluang.

Ada juga strategi lain saat sebuah saham limit up, bisa melihat saham lain di industri yang sama. Misalnya TSMC limit up, biasanya saham semikonduktor lain juga ikut naik. Dengan begitu, kamu bisa menghindari batasan limit up.

Kalau benar-benar ingin membeli saat limit up, ada alat lain yang bisa digunakan. Misalnya produk derivatif saham, futures, atau kontrak selisih harga (CFD). CFD sangat fleksibel, tidak ada batas kenaikan dan penurunan, dan leverage-nya cukup tinggi, sehingga modal kecil bisa mengontrol posisi yang lebih besar. Selain itu, bisa diperdagangkan 24 jam, tidak terbatas jam pasar saham. Yang paling penting, bisa melakukan transaksi dua arah: jika yakin naik, buka posisi long; jika yakin turun, buka posisi short, sehingga ada peluang mendapatkan keuntungan dari kedua arah.

Secara umum, meskipun limit up membatasi ruang kenaikan harga saham, ini juga merupakan mekanisme perlindungan pasar. Memahami logika limit up dengan baik, lalu menggabungkan dengan beberapa alat derivatif, pilihan investasi akan jauh lebih fleksibel.
TSM1,13%
SPYX1,41%
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan