O1.exchange Capai Volume $200 Juta—Apakah Terminal Perdagangan On-Chain Menjadi Tren Berikutnya?

Pasar
Diperbarui: 06/18/2026 05:52

Selama beberapa tahun terakhir, pasar trading on-chain terus berkembang—mulai dari AMM hingga aggregator, dan kini ke platform kontrak perpetual. Baik itu Uniswap, Jupiter, maupun Hyperliquid, setiap pembaruan produk utama secara mendasar mencerminkan perubahan kebutuhan trading pengguna.

Memasuki tahun 2026, sebuah arah baru mulai menarik perhatian pasar. Semakin banyak proyek yang tidak lagi puas dengan produk satu fungsi saja. Sebaliknya, mereka berupaya mengintegrasikan trading spot, derivatif, pasar prediksi, dan strategi otomatis ke dalam satu antarmuka terpadu—pada dasarnya membangun platform trading on-chain yang mengingatkan pada Bloomberg Terminal di dunia keuangan tradisional.

o1.exchange adalah contoh utama dari tren ini. Berdasarkan whitepaper resminya, sejak peluncuran versi Beta, platform ini telah melampaui volume trading spot kumulatif sebesar $220 juta, mengeksekusi lebih dari 3 juta transaksi, menarik sekitar 400.000 pengguna terdaftar, serta menyelesaikan putaran pendanaan awal (seed funding) sebesar $4,8 juta.

Seiring cakupan produk yang terus berkembang, muncul pertanyaan baru: Mungkinkah terminal super trading on-chain menjadi tren besar berikutnya?

Volume trading o1.exchange melampaui $200 juta—Apakah terminal super trading on-chain akan menjadi tren besar selanjutnya?

o1.exchange Bertumbuh Pesat dalam Jumlah Pengguna

Bagi sebuah protokol yang masih berada di tahap awal, pertumbuhan pengguna seringkali lebih berbicara daripada harga token. Peningkatan aktivitas trading yang berkelanjutan menjadi indikator permintaan riil platform yang lebih dapat diandalkan dibandingkan hype pasar jangka pendek.

Berdasarkan whitepaper resmi, dalam tujuh bulan sejak peluncuran Beta, o1.exchange telah melampaui volume trading spot kumulatif $220 juta, mengeksekusi 3 juta transaksi, dan menambah basis pengguna terdaftar hingga sekitar 400.000. Pada saat yang sama, proyek ini mengamankan pendanaan awal sebesar $4,8 juta dari investor seperti Coinbase Ventures, AllianceDAO, dan Amber Group.

Selain data resmi, data dari Token Terminal menunjukkan bahwa volume trading kumulatif historis platform ini kini telah mencapai sekitar $244 juta. Meski masih tertinggal dari protokol terkemuka seperti Hyperliquid, pertumbuhan ini terbilang impresif untuk proyek yang relatif baru.

Berbeda dengan platform yang sangat mengandalkan insentif untuk menarik pengguna, o1.exchange berfokus pada mendorong aktivitas trading organik. Melalui skema rebate, sistem poin, dan alat trading canggih, platform ini berupaya membangun loyalitas pengguna dan menciptakan ekosistem trading yang lebih stabil.

Dari DEX Aggregator Menuju Onchain Everything Exchange

Jika Anda melihat o1.exchange hanya sebagai DEX aggregator lain, Anda mungkin meremehkan posisi sebenarnya. Sementara sebagian besar aggregator dalam beberapa tahun terakhir berfokus pada solusi fragmentasi likuiditas, o1.exchange justru mengatasi masalah fragmentasi titik masuk trading.

Materi resmi menggambarkan visi inti proyek ini sebagai "Onchain Everything Exchange"—sebuah platform terpadu yang mendukung trading spot, kontrak perpetual, dan pasar prediksi. Pendekatan ini melampaui model DEX tradisional dan bergerak menuju terminal trading yang komprehensif.

Saat ini, o1.exchange mendukung berbagai blockchain, termasuk Base, Solana, BNB Chain, Ethereum, dan Arbitrum, serta mengagregasi likuiditas dari lebih dari 100 sumber. Bagi pengguna, ini berarti mereka tidak perlu lagi terus-menerus berpindah antar-chain dan platform trading, sehingga pengalaman trading menjadi lebih mulus.

Selain itu, o1.exchange telah mengintegrasikan Hyperliquid untuk trading kontrak perpetual dan secara bertahap menggabungkan sumber daya pasar prediksi seperti Kalshi. Seiring semakin banyaknya kelas aset yang tersedia dalam satu antarmuka, platform ini berkembang dari sekadar alat swap menjadi gerbang trading on-chain yang komprehensif.

Pasar Prediksi Muncul sebagai Arena Kompetisi Baru

Pasar prediksi mulai menjadi narasi utama di industri kripto tahun 2026. Sebelumnya dianggap sebagai segmen niche, kini pasar prediksi semakin diminati seiring pertumbuhan pengguna di platform seperti Polymarket dan Kalshi, mendorong lebih banyak proyek untuk kembali melirik ranah ini.

Bagi o1.exchange, integrasi pasar prediksi dengan trading spot dan perpetual pada dasarnya memperluas skenario trading bagi pengguna. Trader kini dapat berpartisipasi tidak hanya pada aset seperti BTC dan ETH, tetapi juga pada perdagangan berbasis prediksi terhadap peristiwa makroekonomi, olahraga, dan hasil lainnya.

Perubahan ini berarti persaingan tidak lagi terbatas pada efisiensi swap; cakupan kebutuhan trading yang lebih kaya dan beragam kini menjadi fokus. Dibandingkan platform satu produk, platform trading komprehensif lebih berpeluang membangun loyalitas pengguna.

Dalam jangka panjang, jika pasar prediksi terus berkembang, platform yang menawarkan titik masuk terpadu bisa memperoleh keunggulan signifikan. Inilah sebabnya semakin banyak proyek berupaya mengintegrasikan berbagai tipe aset ke dalam satu sistem trading.

Strategi Otomatis dan Alat AI Berpotensi Jadi Fokus Berikutnya

Selain memperluas jenis produk, otomasi menjadi area kunci yang ditekankan o1.exchange. Seiring persaingan pasar yang semakin ketat, sekadar menyediakan antarmuka trading tidak lagi cukup untuk menonjol.

Berdasarkan informasi resmi, platform ini kini mendukung fitur canggih seperti limit order, TWAP, sniping, dan perlindungan MEV, serta terus meningkatkan kapabilitas eksekusi dan otomasi. Desain ini menargetkan tidak hanya pengguna swap kasual, tetapi semakin menarik minat trader profesional.

Pendekatan ini mengingatkan pada platform trading kuantitatif di keuangan tradisional. Bagi trader profesional, efisiensi eksekusi dan alat strategis lebih penting daripada sekadar antarmuka, dan otomasi dapat semakin meningkatkan performa trading.

Dengan konsep AI agent yang semakin populer, semakin banyak pelaku pasar yang berfokus pada trading otomatis dan eksekusi cerdas. Meski AI mungkin belum sepenuhnya menggantikan trader, teknologi ini kemungkinan akan menjadi alat penting dalam pembuatan dan eksekusi strategi—berpotensi membentuk lanskap persaingan platform trading on-chain di masa depan.

Akankah Terminal Super Trading On-Chain Menjadi Tren Berikutnya?

Dalam beberapa tahun terakhir, infrastruktur kripto telah berkembang melalui beberapa fase—dari exchange terpusat ke DEX, lalu ke aggregator dan platform kontrak perpetual. Setiap peningkatan selalu berkaitan dengan perubahan kebutuhan pengguna.

Seiring ekosistem on-chain tumbuh, pengguna dihadapkan pada ragam aset dan skenario trading yang semakin kompleks. Spot, kontrak perpetual, pasar prediksi, dan strategi otomatis semuanya mendorong kebutuhan baru, dan berpindah-pindah platform jelas menurunkan efisiensi trading.

Kini, semakin banyak proyek berupaya mengintegrasikan berbagai produk dalam satu antarmuka, strategi yang sangat mirip dengan jalur keuangan tradisional. Baik itu Bloomberg Terminal atau terminal trading institusional, nilai inti terletak pada peningkatan efisiensi informasi dan eksekusi.

Dalam konteks ini, konsep "Onchain Everything Exchange" yang diusung o1.exchange bisa jadi merupakan tahap perkembangan berikutnya. Di masa depan, faktor kompetitif utama mungkin bergeser dari siapa yang memiliki TPS lebih tinggi menjadi siapa yang mampu menjadi gerbang terpadu bagi pengguna yang memasuki pasar on-chain.

Mungkinkah o1.exchange Menjadi Hyperliquid Berikutnya?

Saat ini, o1.exchange masih berada pada tahap awal. Dari sisi volume trading, basis pengguna, dan pengaruh ekosistem, platform ini masih tertinggal dari protokol papan atas seperti Hyperliquid.

Namun, kedua platform bergerak menuju strategi yang serupa—memperluas skenario trading untuk meningkatkan keterikatan pengguna. Perbedaan utamanya, Hyperliquid lebih fokus pada derivatif, sementara o1.exchange berupaya mencakup spot, perps, dan pasar prediksi, dengan mengandalkan agregasi multi-chain sebagai keunggulan kompetitif.

Apakah model ini bisa sukses masih perlu dibuktikan. Ruang infrastruktur trading on-chain sangat kompetitif, dan faktor seperti retensi pengguna, kedalaman likuiditas, serta pengalaman produk pada akhirnya akan menentukan masa depan masing-masing proyek.

Namun dari sudut pandang evolusi industri, peluang untuk platform satu fungsi semakin menyempit, sementara pentingnya terminal trading komprehensif terus meningkat. Bagi investor, fokus utama mungkin bukan pada harga token jangka pendek, melainkan apakah infrastruktur trading on-chain tengah memasuki fase persaingan baru.

Kesimpulan

Dengan volume trading kumulatif yang melampaui $200 juta dan basis pengguna 400.000, o1.exchange terus berkembang dari DEX aggregator menjadi terminal trading yang komprehensif. Dari agregasi likuiditas multi-chain hingga pasar prediksi dan strategi otomatis berbasis AI, proyek ini membangun gerbang terpadu yang mencakup lebih banyak skenario trading.

Pendekatan ini sangat mirip dengan perkembangan Bloomberg Terminal di keuangan tradisional. Ke depan, persaingan di pasar trading on-chain bisa jadi akan bergeser dari likuiditas ke akses pengguna.

Jika semakin banyak aktivitas trading bermigrasi ke on-chain, platform yang menawarkan spot, perps, pasar prediksi, dan eksekusi otomatis dalam satu tempat bisa menjadi lapisan fondasi berikutnya. Model terminal super trading on-chain yang diwakili o1.exchange berpotensi menjadi titik fokus baru bagi pasar.

FAQ

Berapa volume trading di o1.exchange?

Menurut data resmi, sejak peluncuran Beta, o1.exchange telah melampaui volume trading spot kumulatif sebesar $220 juta.

Berapa jumlah pengguna o1.exchange?

Saat ini, platform ini memiliki lebih dari 400.000 pengguna terdaftar dan lebih dari 3 juta transaksi yang telah dieksekusi.

Blockchain apa saja yang didukung o1.exchange?

Saat ini, o1.exchange mendukung berbagai ekosistem, termasuk Base, Solana, BNB Chain, Ethereum, dan Arbitrum.

Mengapa pasar prediksi semakin mendapat perhatian?

Pasar prediksi muncul sebagai skenario trading baru, dengan semakin banyak platform yang mengintegrasikannya bersama trading spot dan derivatif.

Mungkinkah o1.exchange menjadi Hyperliquid berikutnya?

Meskipun keduanya bergerak ke arah yang serupa, o1.exchange lebih menekankan pada agregasi multi-chain dan integrasi pasar prediksi.

Akankah terminal super trading on-chain menjadi tren masa depan?

Seiring kebutuhan trading yang semakin kompleks, akses terpadu, trading multi-aset, dan eksekusi otomatis kemungkinan besar akan menjadi prioritas pengembangan utama bagi platform trading on-chain.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten