Pemerintah Negara Bagian Lagos berencana meningkatkan kapasitas pusat data kota tersebut menjadi lebih dari 250 megawatt (MW) pada tahun 2030, menurut Olatubosun Alake, komisaris untuk inovasi, sains, dan teknologi. Ekspansi itu diumumkan saat peluncuran fasilitas pusat data Kasi Cloud LOS1 di Lekki, ketika Alake menyatakan bahwa Lagos sudah menampung hampir tiga perempat dari kapasitas pusat data komersial Nigeria. Pertumbuhan didorong oleh lonjakan kebutuhan layanan cloud, kekuatan komputasi AI, serta penyimpanan data lokal di seluruh ekonomi digital Nigeria, dengan sekitar 146 MW kapasitas pusat data tambahan yang saat ini masuk pipeline. Lagos adalah rumah bagi salah satu ekosistem startup terbesar di Afrika, senilai lebih dari $15 miliar, dan negara bagian ini memposisikan diri sebagai pusat utama infrastruktur digital dan komputasi AI di luar reputasinya sebagai pusat startup.
Spesifikasi Fasilitas Kasi Cloud LOS1
Fasilitas Kasi Cloud LOS1 dirancang sebagai kampus pusat data hyperscale berkapasitas 40MW, dengan mulai beroperasi menggunakan beban IT awal 7,2MW. Menurut Alake, fasilitas ini mencakup infrastruktur komputasi GPU canggih yang didukung chip Nvidia H100 dan H200, bersama sistem pendingin cair dan layanan infrastruktur cloud yang dirancang untuk mendukung beban kerja AI. Rekan pendiri Kasi Cloud sekaligus direktur utama Johnson Agbogun menggambarkan kampus Lekki sebagai "awal dari pabrik AI Nigeria," sambil menekankan peran fasilitas ini dalam mengurangi ketergantungan Nigeria pada infrastruktur cloud asing serta memberi bisnis-bisnis Afrika lebih banyak kendali atas pengembangan data dan sistem AI mereka.
Konteks Investasi dan Pasar
Nigeria Sovereign Investment Authority (NSIA), pengelola Dana Investasi Kekayaan Negara Nigeria, berinvestasi di Kasi Cloud melalui instrumen surat utang konversi senilai US$8 juta. Kolawole Owodunni, Direktur Eksekutif dan Chief Information Officer NSIA, menyatakan bahwa "seiring kecerdasan buatan mengubah ekonomi secara global, negara-negara yang mengendalikan infrastruktur komputasi dan data mereka sendiri akan menjadi pihak yang siap untuk memimpin." Menurut firma riset Arizton Advisory & Intelligence, Nigeria diproyeksikan menjadi pasar investasi pusat data dengan pertumbuhan tercepat di Afrika, dengan investasi tahunan yang diperkirakan mencapai hampir $770 juta pada tahun 2031. Agbogun menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan Nigeria saat ini menghabiskan $850 juta setiap tahun untuk infrastruktur cloud asing, sehingga investasi ini diposisikan sebagai infrastruktur penting untuk mempertahankan nilai ekonomi lokal.
Tantangan Operasional
Operator pusat data di Lagos menghadapi kendala besar, termasuk biaya energi yang meningkat 64,1% sejak Januari 2026, pembangkitan listrik nasional yang tidak stabil di kisaran 3.000MW hingga 4.000MW, volatilitas nilai tukar, serta sistem pendingin yang mengonsumsi hampir 40% dari total biaya energi. Membangun fasilitas hyperscale juga membutuhkan investasi modal jangka panjang yang besar dan infrastruktur konektivitas yang stabil.
Rencana Investasi Infrastruktur
Pemerintah Lagos berinvestasi pada jaringan serat optik, teknologi smart city, program inovasi universitas, dan sistem pemerintahan digital untuk mendukung ekspansi pusat data. Alake menyatakan bahwa "ekonomi AI akan membutuhkan ratusan [megawatt]" dan menekankan bahwa "Lagos tidak datang. Lagos sudah ada di sini."