Menurut kolumnis MarketWatch Mark Hulbert, saham ber-volatilitas rendah secara historis memberikan imbal hasil yang hampir setara dengan pasar yang lebih luas, dengan risiko yang jauh lebih rendah. Berdasarkan data kinerja hingga Mei 2026, S&P 500 Low Volatility Index dan MSCI USA Minimum Volatility Index keduanya memberikan imbal hasil tahunan sekitar 10,3-10,4%, dibandingkan 11,5% untuk S&P 500—selisih hanya 1-1,2% per tahun. Namun, indeks ber-volatilitas rendah ini menunjukkan volatilitas sekitar 21% lebih rendah daripada S&P 500, sehingga menghasilkan imbal hasil yang jauh lebih baik jika disesuaikan dengan risiko.
Dengan metodologi dual-screening, Hulbert mengidentifikasi 10 saham defensif ber-volatilitas rendah yang saat ini direkomendasikan oleh beberapa buletin investasi: WEC Energy Group, Realty Income Corp., Pennsylvania Power & Light, Medtronic, General Mills, Kimberly-Clark, Abbott, Tyson Foods, Snap-on Inc., dan Roper Technologies. Saham-saham ini terkonsentrasi di sektor utilitas, consumer staples, dan kesehatan—industri yang memiliki perlindungan sisi bawah kuat saat volatilitas pasar.