Profesor Kang Sung-hoon dari Universitas Hanyang menyampaikan usulan reformasi pajak real estat pada forum kepresidenan pada 23 Juli. Pemerintah sedang meninjau pergeseran sistem pajak real estat komprehensif dari struktur berbasis "jumlah rumah" menjadi struktur berbasis "nilai rumah", demikian isi presentasi yang disampaikan dalam forum yang dipimpin Presiden Lee Jae-myung di lampiran KBS, Seoul. Sistem saat ini menerapkan tarif pajak lebih tinggi kepada individu yang memiliki beberapa rumah dengan nilai lebih rendah dibandingkan mereka yang memiliki satu properti bernilai tinggi, sehingga memunculkan kekhawatiran soal ekuitas yang mendorong pembahasan reformasi. Profesor Kang menguraikan perubahan yang diusulkan dalam presentasi berjudul "Isu untuk Merancang Kebijakan Pajak Real Estat yang Rasional" pada forum nasional tentang kebijakan real estat.
Professor Kang Mengusulkan Peralihan Sistem Pajak Berbasis Nilai
Profesor Kang menilai bahwa struktur pajak real estat komprehensif yang berlaku saat ini perlu diperbaiki dari perspektif ekuitas pajak. "Seseorang yang memiliki tiga rumah senilai 1 miliar KRW masing-masing dikenai tarif pajak lebih tinggi daripada seseorang yang memiliki satu rumah senilai 3 miliar KRW," kata Profesor Kang dalam forum tersebut. Ia mengidentifikasi perlunya membahas penerapan tarif pajak berdasarkan nilai rumah, bukan berdasarkan jumlah rumah yang dimiliki.
Presentasi tersebut menyebut normalisasi beban pajak untuk rumah dengan nilai ultra-tinggi sebagai tugas inti lain dalam reformasi pajak real estat komprehensif. "Isu kunci meliputi apakah beban pajak untuk rumah bernilai ultra-tinggi berada pada tingkat yang tepat, di mana menetapkan standar untuk nilai ultra-tinggi, serta apakah status hunian perlu dicerminkan dalam potongan pajak," jelas Profesor Kang.
Penyesuaian Pajak Keuntungan Modal Diidentifikasi sebagai Titik Koordinasi
Profesor Kang memaparkan arah reformasi pajak keuntungan modal bersamaan dengan usulan pajak kepemilikan properti. "Isu inti mencakup apakah beban pajak atas rumah non-hunian sudah sesuai dan apakah potongan hunian perlu diperluas dalam jangka panjang untuk potongan khusus holding," katanya, sembari menyebut perlunya menyesuaikan sistem potongan dengan fokus pada hunian yang benar-benar dilakukan.
Presentasi itu juga mengidentifikasi kesesuaian beban pajak keuntungan modal untuk rumah bernilai ultra-tinggi serta langkah-langkah untuk mengurangi apa yang disebut "efek penguncian" yang menyebabkan penyusutan transaksi sebagai tugas utama. Profesor Kang menekankan bahwa pajak holding dan pajak keuntungan modal harus dirancang bersama, bukan dipandang terpisah. "Jika pajak holding diperkuat di masa depan, bagaimana merancang dan menerapkan pajak keuntungan modal secara selaras untuk menjaga stabilitas pasar real estat adalah tugas penting," ujar Profesor Kang.
Pendekatan Implementasi Bertahap Ditekankan untuk Stabilitas Pasar
Profesor Kang menekankan reformasi bertahap untuk meminimalkan guncangan pasar. "Penting untuk meninjau langkah transisi yang dapat meminimalkan guncangan pasar dan penolakan pajak secara bersamaan dalam proses reformasi pajak holding," katanya dalam forum tersebut.
Pembahasan untuk mengoordinasikan penyesuaian pajak holding dan pajak keuntungan modal akan menjadi bagian dari proses peninjauan reformasi, menurut presentasi yang disampaikan dalam forum kepresidenan pada 23 Juli.
FAQ
Apa yang diusulkan Profesor Kang pada forum kepresidenan 23 Juli?
Profesor Kang Sung-hoon dari Universitas Hanyang mengusulkan agar pemerintah meninjau pergeseran sistem pajak real estat komprehensif dari struktur berbasis "jumlah rumah" menjadi struktur berbasis "nilai rumah". Ia memaparkan usulan ini dalam forum yang dipimpin Presiden Lee Jae-myung di lampiran KBS, Seoul, pada 23 Juli.
Mengapa sistem pajak real estat saat ini memerlukan reformasi menurut presentasi tersebut?
Sistem saat ini menerapkan tarif pajak lebih tinggi kepada individu yang memiliki beberapa rumah bernilai lebih rendah dibandingkan mereka yang memiliki satu properti bernilai tinggi. Profesor Kang menyatakan bahwa seseorang yang memiliki tiga rumah senilai 1 miliar KRW masing-masing dikenai tarif pajak lebih tinggi daripada seseorang yang memiliki satu rumah senilai 3 miliar KRW, sehingga menimbulkan kekhawatiran soal ekuitas yang memerlukan perbaikan.
Pendekatan apa yang direkomendasikan Profesor Kang untuk menerapkan reformasi pajak?
Profesor Kang menekankan pentingnya meninjau langkah transisi yang dapat meminimalkan guncangan pasar dan penolakan pajak secara bersamaan dalam proses reformasi pajak holding. Ia menyatakan bahwa jika pajak holding diperkuat, merancang dan menerapkan pajak keuntungan modal secara selaras untuk menjaga stabilitas pasar real estat adalah tugas penting.