2 Juni 2026 22:00 hingga 22:15 (UTC), BTC turun 0,52% dalam jendela 15 menit, dengan rentang harga 67.207,1 hingga 67.566,4 USDT, amplitudo 0,53%. Pasar pada hari itu menembus level psikologis 70.000 dolar AS, dengan penurunan harian hampir 6%; ini pertama kalinya sejak April 2026 kehilangan level tersebut, dan sentimen terus lesu.
Pemicu inti dari pergerakan kali ini adalah Strategy yang mematahkan narasi jangka panjang “never sell”. Perusahaan tersebut pada 1 Juni mengungkapkan telah menjual 32 BTC antara 26 Mei hingga 31 Mei (sekitar 2,5 juta dolar AS). Meski hanya sekitar 0,004% dari kepemilikan, ini merupakan penjualan pertama sejak Desember 2022. Tindakan perdana menjual koin memicu pasar untuk menilai ulang strategi kepemilikan institusional, melemahkan keyakinan bahwa institusi akan terus menambah posisi; selanjutnya, strategi perdagangan terprogram ikut memicu sinyal jual.
Di saat yang sama, arus dana ETF terus mendapat tekanan sehingga volatilitas makin membesar. Dalam tiga minggu terakhir, ETF BTC mencatat total arus keluar bersih lebih dari 4,2 miliar dolar AS; aset kelolaan turun dari 104 miliar dolar AS menjadi 94 miliar dolar AS, sementara pembelian spot seperti hilang. Menyusutnya likuiditas membuat harga makin sensitif terhadap order jual; analisis teknikal kemudian memicu likuidasi berantai long leverage setelah menembus level support kunci 75.000 dan 72.000 dolar AS, membentuk siklus umpan balik negatif. Selain itu, eskalasi konflik geopolitik AS-Iran menyebabkan harga minyak menembus 90 dolar AS per barel, menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed; dana terus berputar dari aset berisiko ke saham AI dan semikonduktor. Kombinasi faktor ganda hingga berlapis memperkuat tekanan jual jangka pendek.
Untuk jangka pendek, perlu dicermati apakah level support 68.000 dolar AS bisa stabil. Jika level ini ditembus, potensi tekanan jual lanjutan bisa terjadi. Investor sebaiknya memantau secara ketat arus dana ETF, perubahan alamat paus (whale) di on-chain, serta dinamika kebijakan makro, sambil mewaspadai risiko lonjakan volatilitas ekstrem.