EcoPro BM mengadakan rapat pemegang saham pada 16 Juli di NH Investment & Securities di Yeouido, Seoul, untuk membahas kekhawatiran terkait penambahan modal sebesar 1,2 triliun won. CEO Kim Jang-woo mengatakan perusahaan perlu melakukan investasi langsung pada smelter nikel di Indonesia untuk memastikan biaya dan daya saing kontrak, seiring pelanggan dari sektor baterai dan pabrikan mobil semakin menghargai kemampuan pengadaan bahan baku. Perusahaan mengumumkan rencana penambahan modal pada tanggal 30 bulan lalu, dengan mengalokasikan 765 miliar won untuk smelter nikel BNSI di kawasan industri IGIP milik Indonesia.
CEO EcoPro BM Jelaskan Strategi Investasi Nikel Langsung
CEO Kim Jang-woo menanggapi pertanyaan pemegang saham mengenai mengapa EcoPro BM—anak usaha bahan katoda—berinvestasi langsung pada pemurnian nikel, bukan melalui perusahaan induk atau afiliasi prekursor EcoPro Materials. “Belakangan ini, klien kami—termasuk perusahaan baterai dan pabrikan mobil—memandang kemampuan pengadaan bahan baku sebagai keunggulan kompetitif yang penting,” kata Kim. “Perusahaan bahan katoda juga harus mengamankan langsung rantai pasokan nikel untuk meningkatkan daya saing biaya dan memenangkan kontrak baru.”
Kim menjelaskan bahwa meski bisnis sebelumnya mengikuti urutan rantai nilai, persaingan semakin ketat hingga perusahaan baterai dan pabrikan mobil kini mengamankan langsung tambang dan bahan baku. Ia menambahkan bahwa karena setiap afiliasi Grup EcoPro mempertahankan dewan independen dan struktur pemegang saham seperti perusahaan publik, EcoPro BM membutuhkan rantai pasokan nikel sendiri untuk meningkatkan nilai perusahaan dan profitabilitas.
Platform pemegang saham minoritas “Act” sebelumnya mengangkat kekhawatiran bahwa struktur transaksi penambahan modal dapat merugikan nilai pemegang saham, dengan meminta penjelasan rinci mengapa perusahaan bahan katoda berinvestasi langsung pada operasi pemurnian nikel.
Perusahaan Berencana Ekspansi Kapasitas Produksi di Indonesia dan Hungaria
Melalui investasi ini, EcoPro BM akan memperluas kapasitas produksi smelter di Indonesia dari 66.000 ton per tahun menjadi 90.000 ton, dengan operasi komersial dimulai pada Q2–Q3 tahun depan. Perusahaan juga berencana meningkatkan kapasitas produksi pabrik di Hungaria dari 54.000 ton saat ini menjadi 60.000 ton.
CEO Kim menyatakan dana hasil penambahan modal tidak akan digunakan untuk pelunasan utang, melainkan dialokasikan untuk investasi yang meningkatkan nilai pemegang saham dan nilai korporasi di masa depan. “Setelah penambahan modal menstabilkan struktur keuangan kami, kapasitas pendanaan eksternal kami akan meningkat, sehingga memperluas opsi investasi,” kata Kim. Ia menambahkan bahwa dengan mempertimbangkan skala dan waktu investasi di Indonesia, penambahan modal yang disetor menggambarkan metode paling tepat untuk mengejar perbaikan struktur keuangan dan investasi secara bersamaan.
CEO Meluruskan Permintaan Koreksi Berkas FSS Securities
Terkait permintaan terbaru Otoritas Jasa Keuangan untuk koreksi pada berkas efek, CEO Kim menyatakan, “Kami tidak memandang ini sebagai arahan untuk menurunkan skala penambahan modal.” Ia menjelaskan, “Kami memahaminya sebagai permintaan untuk memberikan deskripsi yang lebih rinci dalam berkas efek agar investor dapat sepenuhnya memahami isinya. Kami berencana mengajukan berkas koreksi yang setia mencerminkan persyaratan FSS.”
FAQ
Mengapa EcoPro BM berinvestasi langsung pada smelter nikel, bukan melalui perusahaan induknya?
CEO Kim Jang-woo menyatakan bahwa klien dari sektor baterai dan pabrikan mobil kini memandang kemampuan pengadaan bahan baku sebagai keunggulan kompetitif yang penting, sehingga memerlukan perusahaan bahan katoda untuk mengamankan langsung rantai pasokan nikel demi daya saing biaya dan kontrak. Karena EcoPro BM mempertahankan dewan independen dan struktur pemegang saham seperti perusahaan publik, anak usaha tersebut memerlukan rantai pasokan sendiri untuk meningkatkan nilai perusahaan.
Kapan smelter nikel di Indonesia akan mulai beroperasi komersial?
Perusahaan berencana memulai operasi komersial di smelter nikel di Indonesia pada Q2–Q3 tahun depan, dengan kapasitas produksi meningkat dari 66.000 ton per tahun menjadi 90.000 ton melalui investasi ini.
Apa yang dikatakan CEO terkait permintaan koreksi dari Financial Supervisory Service?
CEO Kim menyatakan perusahaan tidak memandang permintaan koreksi dari FSS sebagai arahan untuk menurunkan skala penambahan modal, melainkan sebagai permintaan untuk memberikan deskripsi yang lebih rinci dalam berkas efek agar pemahaman investor meningkat.